Mengenal Platform “Indonesiana” dan Perhelatan “Festival Budaya Saman”

0
70

Gayonese Documentary, Jakarta – Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid, Ph.D didampingi Bupati Kabupaten Gayo Lues H. Muhammad Amru, hari ini Selasa (2/10/2018) di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A Kemendikbud, Senayan, Jakarta secara resmi membuka Festival Budaya Saman yang akan digelar di Gayo Lues mulai 2 Oktober hingga 24 November 2018 kedepan. Hilmar Farid, Ph.D bersama H. Muhammad Amru membuka secara simbolis dengan memukul salah satu alat musik tradisional yakni Kecapi Gayo.

Indonesiana adalah Platform Pemajuan Kebudayaan yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk mendorong dan sekaligus memperkuat upaya Pemajuan Kebudayaan sesuai amanat UU No. 5 Tahun 2017. Mengedepankan azas gotong royong, Platform Indonesiana ditujukan untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam menyelenggarakan kegiatan budaya sesuai azas, tujuan, dan objek pemajuan kebudayaan yang ditetapkan dalam UU No. 5 Tahun 2017.

Untuk tahun 2018, Indonesiana berfokus pada konsolidasi standar tata kelola kegiatan budaya dan manajemen penyelenggaraan kegiatan budaya melalui dukungan atas penyelenggaraan festival-festival di daerah, baik terhadap festival yang sudah ada sebelumnya maupun dengan mendukung penyelenggaraan festival yang baru yang relevan dengan potensi dan karakter budaya di kawasan masing-masing.

Selain mengamanatkan tentang peningkatan tata kelola kegiatan budaya,UU No. 5 Tahun 2017menggaris bawahi tentang penguatan ekosistem kebudayaan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, platform Indonesiana dirancang sebagai sebuah struktur hubungan terpola antar penyelenggara kegiatan budaya daerah di Indonesia yang dibangun secara gotong royong.

Dalam konteks platform kebudayaan Indonesiana, gotong royong dimaksudkan sebagai keterlibatan semua pihak yang memiliki kepedulian dan kepentingan atas pemajuan kebudayaan untuk mengembangkan kapasitas daerah dalam menyelenggarakan kegiatan budaya mencakup bidang-bidang berikut: (1) pengelolaan pengetahuan (knowledge management); (2) kuratorial dan produksi; (3) publikasi dan kehumasan, serta (4) kerjasama dan pendukungan.

Salah satu kegiatan budaya tahun 2018 yang didukung melalui platform Indonesiana ialah Festival Budaya Saman (FBS), yangakan digelar di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, dari tanggal 2 Oktober hingga 24 November 2018. Melibatkan ratusan penampil dari 11 kampung di 11 kecamatan di Gayo Lues, Festival Budaya Saman dimaksudkan sebagai perayaan atas kelestarian ekosistem pertunjukan saman di Kabupaten Gayo Lues. Hal tersebut ditandai dengan tetap bertahannya tradisi berlatih dan mempertunjukan Saman di setiap kampung hingga hari ini, terutama pada setiap hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi.

Kini, Saman bukan lagi hanya merupakan pertunjukan khas Suku Gayo yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat dan hari-hari besar agama Islam. Pertunjukan Saman kini dikenal dan dikagumi penonton dari seantero Nusantara, bahkan dunia. Saman mulai pula ditampilkan di berbagai kesempatan dan keperluan dalam konteks kehidupan masa kini, antara lain dalam acara-acara resmi, acara keluarga, atau dalam pembukaan sebuah festival.

Tidak saja mengalami perkembangan secara temporal, Saman yang juga dikenal secara internasional dengan sebutan “Dance of Thousand Hands” kini juga mengalami perkembangan secara spasial. Saman kini tidak lagi hanya dipraktikkan oleh masyarakat suku Gayo, akan tetapi juga oleh berbagai komunitas di seluruh dunia. Atas dasar itu, UNESCO menetapkan Saman sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) asal Indonesia melalui rapat Komite Antar Negara di Bali pada 24 November 2011 lalu.

Oleh sebab itu, Festival Budaya Saman tidak hanya akan merayakan Saman sebagai sebuah genre pertunjukan belaka. Lebih jauh, Festival Budaya Saman 2018 akan merayakan Saman sebagai budaya dan ‘dunia’ masyarakat Gayo Lues. Melalui Festival Budaya Saman para penonton dan pengunjung tidak saja dapat menikmati Saman sebagai pertunjukan, tetapi juga dapat mencermati dan mempelajarinya sebagai suatu sistem budaya yang memuat berbagai nilai dan pranata, serta mencerminkan karakter dan etos masyarakat Gayo.

Untuk tujuan tersebut, Festival Budaya Saman akan mengambil tradisi Bejamu Saman sebagai materi utama kegiatan. Tradisi Bejamu Saman adalah pergelaran Saman selama dua hari dua malam (roa lo roa ingi) di mana akan ada dua kampung yang tampil bersama dan berbagi peran degan bertindak sebagai tuan rumah dan tamu. Hal yang menarik dari Bejamu Saman adalah karena setiap anggota grup penampil tamu akan tinggal sebagai saudara (serinen) di rumah masing-masing anggota grup penampil tuan rumah.Persaudaraan antara dua pesaman melalui Bejamu Saman umumnya bahkan berlanjut hingga melampaui acara pertunjukan, yakni dalam kehidupan nyata, bahkan hingga ke anak-cucu mereka.

Menggali nilai-nilai kegiatan Bejamu Saman tersebut, maka dalam rangkaian Festival Budaya Saman 2018 akan dilaksanakan 11 pertunjukan di mana masing-masing pertunjukan akan dilaksanakan selama 2 hari 2 malam di 11 Kampung penyelenggara. Bejamu Saman Roa Lo Roa lngi akan diwakili 1 kampung dari setiap Kecamatan di Kabupaten Gayo Lues. Kegiatan Bejamu Saman akan diakhiri dengan pemilihan penampil terbaik oleh para kurator Festival Budaya Saman, yang terdiri atas para budayawan, seniman, akademisi, pemuka masyarakat serta pejabat pemerintah Gayo Lues.

Festival Budaya Saman 2018 akan dibuka dengan rangkaian Seminar, Diskusi Kelompok Terpumpun dan Pameran, yang dipusatkan di Komplek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Pembukaan direncanakan akan dihadiri oleh H. Muhammad Amru, MSP, Bupati Gayo Lues beserta 11 Camat se Kabupaten Gayo Lues.Dibuka, Dirjen Kebudayaan RI, Hilmar Farid, Ph.D, didampingi Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Dr. Nadjamuddin Ramly, M.Si,Seminar Budaya Saman 2018, yang bertemakan “Saman dalam Spektrum Pengetahuan” akan dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2018.

Sumber : Instagram @festivalsaman

Seminar Budaya Saman 2018 ini bermaksud untuk menghasilkan berbagai pemikiran yang inovatif dan solutif terkait pengembangan saman sebagai potensi budaya. Seminar akan dilanjutkan dengan membukukan makalah dan artikel-artikel yang dijaring melalui Call For Paper. Melalui seminar dan Call For Paper ini, diharapkan dapat diteroka jalan menuju suatu ‘kultur riset’ dan ‘kultur kreatif’ untuk mengembangkan dan memanfaatkan saman secara lebih luas di masa yang akan datang.

Esok harinya, tanggal 3 Oktober 2018, Rangkaian Pembukaan FBS 2018 akan diteruskan dengan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT), mengambil topik “Menuju Saman Centre di Gayo Lues.” DKTini bertujuan untuk mengadakan kajian dan pembacaan bersama atas isu-isu terkait pengembangan Saman, baik yang langsung berkaitan dengan rencana pengembangan Saman Center, maupun yang berhubungan dengan penerapan produk pertunjukan Saman secara luas di Indonesia dan dunia. DKT akan diikuti oleh partisipan yang terdiri atas praktisi seni, dosen dan guru seni budaya, mahasiswa, birokrat, senator, tokoh masyarakat Gayo Lues, jurnalis, penulis, serta pengamat dan peneliti seni.

Mengiringi seminar dan diskusi kelompok terpumpun, akan dilaksanakan Pameran Saman bertemakan “Gere Pora Saman,” yang menyajikan foto-foto Saman, buku-buku tentang Gayo, Kerawang Gayo, baju, aksesoris dan kelengkapannya Saman, serta kumpulan video Saman, 2-5 Oktober 2018. Setelahnya, rangkaian FBS 2018 akan digelar di Gayo Lues, diawali dengan Workshop Gerak dan Syair Saman, 9-10 Oktober 2018. Mulai tanggal 13 Oktober, Bejamu Saman akan digelar secara maraton di 11 kampung, di 11 Kecamatan Se-Gayo Lues.

doc. Instagram @festivalsaman

Sebagai bagian tak terpisahkan dari pertunjukan Saman, kesenian Bines juga akan tampil dalam Festival Budaya Saman. Tari Bines yang lazimnya digelar sebagai pasangan pertunjukan Saman, akan ditampilkan . Berkebalikan dengan Saman yang seluruh penampilnya harus laki-laki, maka seluruh penampil Bines adalah perempuan. Lazimnya, mereka akan berbaris di belakang barisan Saman, ketika pertunjukan Bejamu Saman sedang berlangsung. Kompetisi Bines, akan digelar 17-18 November 2018.

Merespons pula peran penting kerawang, yakni tenun motif khas Gayo, yang senantiasa hadir dalam pertunjukan Saman melalui pakaian para penampil, maka dalam rangkaian Festival Budaya Saman juga akan dihadirkan Kompetisi Kerawang. Kompetisi Kerawang yang digelar di Blangkejeren pada 17 November 2018, akan diteruskan dengan Kompetisi Musik Etnik pada 21-22 November 2018. Kompetisi Musik Etnik dalam FBS 2018, dilaksanakan untuk ikut merayakan potensi musikal yang terdapat dalam pertunjukan Saman. Festival ini merupakan ajang bagi generasi muda Gayo Lues serta peserta dari daerah lainnya dalam menunjukkan kebolehannya dalam meramu potensi Musik Tradisional Gayo menjadi karya musik yang bernuansa masakini.

Sebagai bagian tak terpisahkan dari berbagai perayaan Saman di Gayo Lues, Festival Budaya Saman juga akan menghadirkan Kompetisi Kopi, yang akan menghimpun para pelaku lndustri kopi, pada 21-22 November 2018. Dan sebagai puncak, FBS 2018 akan ditutup dengan penampilan Saman Bale Asam, dari 11 kampung yang tampil dalam Rangkaian Bejamu Saman. Direncanakan, Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, Ph.D, akan hadir dalam acara penutupan ini.

Dengan rangkaian kegiatan yang sedemikian, Festival Budaya Saman diharapkan dapat menjadi instrumen dan efektif untuk menuju cita-cita menjadikan Gayo Lues sebagai ‘kampung halaman’ pertunjukan Saman. Keberhasilan program jangka panjang ini nantinya akan ditandai dengan berdirinya Saman Centre, yang akan berfungsi sebagai laboratorium untuk mengembangkan saman melalui kolaborasi, riset dan eksperimetasi.

Kegiatan Festival Budaya Saman 2018 akan mengambil beberapa tempat di Kabupaten Gayo Lues sebagai venue utama, yakni Bale Musara, Stadion Seribu Bukit, dan beberapa menasah.
Hal yang pasti, melalui Festival Budaya Saman, para pengunjung dapat menyaksikan sebuah spektrum tentang kekayaan budaya Saman. Mulai dari pertunjukan Saman klasik sebagai sebuah prototype atau bentuk asal, yang senantiasa bisa dirujuk dan ditelusuri dalam rangka memperluas cakrawala pertunjukan, hingga berbagai garapan pertunjukan kontemporer yang mengambil inspirasi dari Saman, yang diproyeksikan akan ditampikan secara gradual dalam festival ini.

Singkatnya, selain melibatkan para stakeholder Saman sebagaimana sudah tergambarkan, Festival Budaya Saman 2018 pada dasarnya juga mengundang para peneliti, pendidik dan kritikus, untuk bersama-sama meneroka jalan, menjadikan Saman sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Di sisi lain, Festival Budaya Saman ke depan juga mengundang para koreografer, untuk mengembangkan berbagai pertunjukan kontemporer dari pembacaan mereka atas budaya Saman di Gayo Lues.[Beralih ke Artikel Asal]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here