Mengenal Manusia-Manusia Gunung, Saman Hingga Leuser

1
493
Penyambutan jamuan saman "roa lo roa ingi" di kaki Gunung Leuser, Kedah, Gayo Lues. (Dok. Published Ilang Using Ijo)

Gayo Lues,  kabupaten yang dijuluki “Negeri Seribu Bukit” ini dikenal memiliki wilayah yang sangat luas. Tidak hanya luas namun juga kaya akan potensi kawasan wisata alam, seperti wisata Gunung, Sungai dan lainnya.

Akhir bulan juni 2017 lalu, saya berkesempatan pulang ke kampung halaman. Tempat tinggal saya merupakan kampung dimana letaknya paling ujung atau  terakhir untuk menuju Gunung Leuser. Seperti biasa, hari liburan dimanfaatkan bagi banyak orang untuk mudik ke kampung halaman. Saya senang bisa pulang kampung setelah hampir satu tahun lamanya meninggalkan orangtua untuk menempuh pendidikan di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Selasa sore, 20 Juni Saya mulai berkemas sambil menanti mobil yang telah dipesan tiket sebelumnya. Masih terbayang oleh Saya tempat-tempat wisata yang dulunya ramai dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah, terlebih hari-hari besar seperti hari libur nasional dan hari raya.

Tak lama menunggu, tepatnya pukul 16.15 WIB mobil yang akan mengantar saya ke tempat tujuan tiba, yaitu sejenis mobil Minibus L300 dengan bertuliskan “Transport Gayo Lues” berwarna hitam dengan jendela yang telah dilapisi kaca film dengan ketebalan kurang lebih 70 persen warna hitam.  Minibus jenis ini adalah salah satu angkutan umum untuk menuju Kabupaten Gayo lues, mengingat perjalanan kesana  naik turun dan kelebaran jalan juga tidak terlalu luas.

Mobil angkutan umum Gayo Lues-Banda Aceh. (Dok. Published Ilang Using Ijo)

Minibus L300 adalah salah satu angkutan umum untuk tujuan Banda Aceh dan Gayo Lues non AC, wajar saja karena sejuknya dataran tinggi gayo yang tak terbantahkan lagi. Saya sempatkan bertanya kepada seorang sopir yang menjemput saya pada saat itu, “Bang kenapa angkutan umum tujuan Gayo Lues maupun sebaliknya hampir semua jenis mobil ini?,” tanya saya kepadanya.

“Karena jenis mobil inilah yang cocok dan cepat menuju kesana,” jawabnya, sambil mengemudikan mobil tersebut menjemput penumpang di tempat lain.

Perjalanan menuju Gayo Lues maupun sebaliknya biasanya dilakukan pada malam hari. Tepat pukul 17.00 WIB saya dan 6 penumpang lainnya  bersiap menikmati perjalanan malam itu. Untuk menempuh perjalanan dari Banda Aceh ke Blangkejeren biasanya memakan waktu lebih kurang 12 sampai 13 jam  perjalanan.

Beristirahat menanti perjalanan malam menuju Gayo Lues.

Selama dalam perjalanan, waktu lebih banyak saya habiskan untuk meredupkan mata sampai akhirnya tertidur. Beberapa kali mobil yang saya tumpangi berhenti untuk beristirahat sejenak melepas lelah para sopir sekaligus makan malam.

Saya memilih tetap berada dalam mobil sampai tempat tujuan, tidak tahu pasti berapa kali mobil berhenti karena rasa ngantuk dan mabuk perjalanan. Sampai akhirnya terbangun kembali saat matahari mulai memancarkan sinarnya.

Pagi itu kebetulan cuaca sedang bersahabat, bukit-bukit yang menjulang tinggi sudah menampakan keindahannya. Sebagian bukit tersebut tertutup oleh awan pagi yang berjalan perlahan oleh hembusan angin pagi.

Disinilah saya dan beberapa penumpang lainnya termasuk Alimin, penumpang yang berada di sebelah kiri saya kembali merasakan udara dataran tinggi gayo. “Sejuk e nge sawah nangsi ku tulen (dinginnya sudah terasa sampai tulang),” kata Alimin sambil memakai jaket dan kain sarung yang dipegangnya.

Panorama puncak Pantan Cuaca, Gayo Lues. (Dok. Published Ilang Using Ijo)

Dinginnya udara pagi di dataran Gayo memang memberi kesan tersendiri bagi warganya, terutama yang baru datang dari luar kota. Dalam pikiran saya, sempat terbayang tempat-tempat yang sebelumnya saya kunjungi saat masih menginjak pendidikan SMA. Karena selama menempuh pendidikan di luar daerah kunjungan ke tempat-tempat  objek wisata sudah berkurang.

Sampai di Kampung Halaman

Waktu itu bertepatan dengan masa libur semester dan juga hari raya Idul Fitri 1438 H. Selama disana saya sering bergabung dan mendapat informasi  dengan para pemandu pendakian  Gunung Leuser, yang tak lain adalah masyarakat setempat. Mereka  adalah guide (pemandu) perjalanan gunung leuser serta para pemuda pegiat tari saman (laki-laki) dan tari bines (perempuan).

Seperti biasa, ketika pulang kampung saya aktif mengikuti kegiatan yang dilakukan pemuda, dan kebetulan kali ini mereka akan mengadakan jamuan saman antar kampung. Segala sesuatunya persiapan saman dapat saya saksikan mulai dari latihan sampai pelaksanaan. Peran pemuda dan pemudi (seberu-sebujang) dengan orang tua (jema tue) tak terpisahkan. Mereka tetap menjaga tradisi budaya dari terdahulu pada setiap rangkaian acara, sebagai tempat konsultasi atas tindakan apa yang akan dilakukan.

Musyawarah warga untuk melaksanakan tradisi jamuan saman antar kampung. (Dok. Published Ilang Using Ijo)

Tibalah saat pelaksanaan, masing-masing warga sibuk mempersiapkan segala sesuatunya di rumah masing-masing untuk menyambut saudara (serinen) yang datang. Sebagian warga mempersiapkan usaha dengan membuka lapak jualan di sekitar pelaksanaan saman. Mereka tak mau ketinggalan untuk meraup keuntungan disamping pelaksanaan saman musiman yang langka digelar.

Kedua video di atas merupakan cuplikan tradisi penyambutan, warga gayo biasa menyebutnya “Didong Nalo” yang biasa dilaksanakan ketika pagelaran saman antar kampung yaitu saman dua hari dua malam atau lebih.

Melalui tradisi saman dalam pelaksanaannya biasanya terjalin persaudaraan yang luar biasa, lantunan-lantunan yang dibawakan pun beragam baik mengenai lingkungan, kehidupan sosial, dan pantun yang disampaikan dalam bahasa khas GAYO.

Pemandu TNGL

Masyarakat di dusun kedah dan sekitarnya mayoritas bekerja sebagai petani, karena tanah disini dikenal subur untuk tanaman sejenis sayuran dan juga tanaman palawija lainnya. Selain bertani masyarakatnya terutama laki-laki sebagian bermata pencaharian sebagai pemandu perjalanan  trekking dan ekspedisi leuser. Dusun kedah merupakan salah satu pintu masuk pendakian gunung leuser yang paling strategis,  karena  dusun kedah tepat berada di kaki gunung leuser (Kawasan Ekosistem Leuser).

Banyak pelancong atau wisatawan yang berdatangan ke Gayo Lues. Hampir setiap kecamatan memiliki objek wisata masing-masing, semuanya memiliki ciri khas dan keunggulan. Kecamatan Blangkejeren misalnya, ada beberapa titik tempat wisata, Kalapinang, Bukit Cinta, Uyem Beriring, dan Air Terjun Akang Siwah.

Wisata Danau Marpunge, pemandian air panas dan Wisma Serkil misalnya berada di kecamatan Putri Betung (saat ini). Air Terjun Rerebe di kecamatan Tripe Jaya.  Sedangkan kawasan wisata lainnya bisa kita jumpai  di Kecamatan Blangjerango seperti Bungalow, Wisata Puncak, pemancingan Blang Tasik dan tempat rekreasi keluarga Bedungan Blang Lopah.

Orangutan hidup bebas di hutan leuser. (Dok. Published Ilang Using Ijo)

Nah selain itu, yang tak kalah menariknya adalah wisata yang perlu persiapan matang dan tidak semua orang bisa menikmatnya, wisata gunung, ya pendakian Gunung Leuser. Pendakian yang menempuh 7 sampai 8 hari lamanya untuk mencapai puncak Leuser. Dan tentunya setiap ekspidisi yang dilakukan tersebut ada orang-orang yang berperan penting didalamnya. Siapakah yang berperan menentukan dibalik kesuksesan pendakian Gunung Leuser? Mereka adalah Manusia-manusia gunung dari dataran tinggi Tanah Gayo yang mengerti keadaan alam dengan caranya.

Pemandu TNGL dengan para wisatawan mancanegara sedang mengamati orangutan di hutan leuser, kedah. Mereka berusaha memperlihatkan apa yang ingin mereka cari dengan cara tetap memelihara tanaman hutan. (Dok. Published Ilang Using Ijo)

Maksud dalam hal ini pengertian guide (pemandu) disini adalah orang yang benar-benar menguasai medan pendakian gunung yang akan dilalui oleh pendaki. Kesulitan yang akan dihadapi seperti meramal cuaca dan mengingat jalur-jalur alternatif serta siap menghadapi segala macam masalah selama dalam pendakian. Hanya sedikit pendaki gunung di Indonesia yang masih menggunakan jasa guide atau pemandu dalam melakukan pendakian, terlebih di Tanah jawa. Karena biasanya jalur pendakian disana sudah jelas, para pendaki hanya tinggal mengikutinya petunjuknya saja.

Selain terkenal ramah dan bertanggung jawab, pemandu-pemandu pegunungan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dari Kedah, Desa Penosan Sepakat, Kabupaten Gayo Lues dikenal sangat tangkas menebak berbagai ancaman hutan belantara Gunung  Leuser. Kelebiahan mereka telah teruji, ini dapat di dilihat dari wisatawan yang  berhasil membawa ratusan peneliti dari beberapa ekspedisi yang sukses tanpa menimbulkan korban jiwa. Itulah sebabnya nama-nama mereka tak asing bagi para peneliti, mahasiswa pencita alam, wisatawan asing, penggemar kegiatan alam, dan pihak yang berkepentingan terhadap TNGL tersebut.

Nama-nama seperti Mr. Jaly, Mr. Isa, Mr. Happy. Mr. Umar, Mr. Ly, Bang Udin, Bang Nasir, dan Bang Dulah dan lainya sudah melegenda hidup di kaki Gunung Leuser. Dalam setiap membawa tamu, saat mereka akan  menyuruh berhenti, selang beberapa menit kemudian cuaca berubah, dan para pendaki masih akan mau  mendirikan tenda, perapian sudah kelar diselesaikan oleh mereka. Ya tangkas dan gesit, serta mampu menahan dinginnya udara hanya dengan bermodalkan baju yang sudah lusuh.

Bagi mereka sepatu plastik dan sandal jepit murah yang bisa di beli di kedai dan  selembar sarung tipis sudah cukup untuk menahan terpaan dinginnya udara di pegunungan. Tentunya masing-masing pemandu memiliki karakter dan sifatnya sendiri. Namun yang jelas mereka memiliki keahlian yang sama, yang mereka dapat dari sumber yang sama pula. Disamping itu bagi guide disini menyadari bahwa keasrian hutan telah menjadi sumber pendapatan untuk menafkahi keluarganya, menjaga dan memberitahu isi di dalamnya kepada dunia melalui trekking dan ekspedisi sudah memberi harapan.

Walau demikian, bukan berarti semata-mata karena mereka orang pedesaan yang akrab dengan cuaca dan iklim daerah setempat, tapi karena akar budaya yang kuat yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang mereka sehingga masih bisa bertahan sampai sekarang. Mereka bersahabat, menjaga, dan hidup dengan keasrian  alam.

Saat ini Mr. Jaly dan rekan-rekannya masih aktif memandu para petualang maupun wistawan lokal dan asing. Sistemnya biasanya  memandu secara bergiliran untuk berbagi rezeki sesama pemandu. Para pemandu yang di koordinir oleh Mr. Jaly selalu berkomitmen memuaskan para pendaki yang akan menikmati liarnya dan indahnya kawasan TNGL.

Hutan kaki Gunung Leuser tampak dari perkampungan Dusun Kedah, Gayo Lues. (Dok. Published Ilang Using Ijo)

Saat ini manusia-manusia gunung masih terus melintas  di puncak Pegunungan Leuser. Menatap kampungnya yang terhalau kabut.  Menebak-nebak apa yang sedang dilakukan oleh anak dan istrinya di rumah dan ladang mereka.

Tapi pikiran semacam itu harus di buang jauh-jauh oleh pemandu gunung ini, mereka harus bergegas menyongsong para pendaki yang terlihat bingung menentukan arah jalan mereka. Kemampuan yang sudah jarang ditemui karena sudah terkikis era zaman modern. Berikut ini adalah video kiriman penulis yang pernah tayang pada TV nasional NET TV pada program NET24 yang menggambarkan aktivitas pemandu dan wisatawan di kaki gunung leuser Gayo Lues.

Gunung Leuser adalah satu dari sekian banyak objek wisata di dataran tinggi Tanah Gayo. Terlepas dari itu, objek-objek wisata lainnya masih perlu penanganan khusus dari Pemerintah Daerah. Termasuk untuk kawasan Leuser sendiri yang seharusnya mendapat perhatian lebih, semoga.[*]

***

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here