Mengenal Kesenian Didong dari Tanah Gayo

1
5183

Gayonese Documentary, Didong merupakan salah satu kesenian yang berasal dari Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Aceh Tenggara, tentunya nama didong ini sudah tidak asing didengar oleh telinga kita, terutama masyarakat yang mendiami dataran Tinggi Tanah Gayo. Didong berasal dari akar kata dik dan dong. Dik mempunyai arti menghentakkan kaki ke tanah (lantai papan/tanah) sedangkan dong mempunyai arti berhenti ditempat atau tidak berpindah dari suatu tempat. Jadi, kata didong mempunyai arti bergerak atau menghentakkan kaki disuatu tempat untuk mengharapkan bunyi dari lantai papan atau tanah. Bunyi yang dihasilkan untuk menyelingi pertandingan didong yang dimainkan oleh dua kelompok pemuda pemudi dari kampung yang berbeda atau sering disebut dengan penyurak/penepok didong. Didong terbagi ke dalam dua bagian yaitu didong Gayo Lues dan Didong Lut (laut).

Didong Gayo Lues dapat dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya didong alo, didong sesuk dan didong niet. Didong Alo merupakan suatu persembahan penyambutan yang dilakukan para tuan rumah kepada para tamu-tamu tertentu, misalnya penyambutan tamu (jamu) tari saman dua hari dua malam (roa lo roa ingi). Didong alo dimainkan 5 sampai 10 orang dari pihak tuan rumah dan pihak tamu, didong alo biasanya dilakukan jika jarak tamu sudah berada diantara satu sampai dua kilometer dan disesuaikan dengan keadaan waktu dan tempat. Persembahan didong dilakukan berbaris sambil berlari dan berbentuk melingkar dari kanan ke kiri dan begitu juga sebaliknya.

Selanjutnya didong jalu, didong jalu dilakukan dengan mempertemukan dua pegawe didong, satu pegawe didong mewakili dari satu pihak misalnya jika kesenian didong jalu dilakukan pada acara pernikahan maka satu pegawe didong akan mewakili ralik (keluarga pengantin wanita) dan satu pegawe didong lagi mewakili pihak juelen (keluarga pengantin pria). Didong jalu dimulai setelah selesainya shalat isya hingga sebelum shalat shubuh dan mempertemukan dua belah penyurak didong dari dua kampung yang berbeda untuk mengiringi cerita dari pegawe didong. Pegawe didong memakai teleng, kain ulos, dan kain sarung serta celana panjang. Didong jalu dimainkan diatas sebuah papan yang memiliki panjang sekitar 3 meter dan dibawahnya telah digali lubang agar dapat menimbulkan bunyi.

Terakhir, didong niet hampir sama dengan didong jalu. Didong niet dimainkan oleh dua pegawe didong yang saling berdampingan seperti didong jalu, didong niet dipersembakan berdasarkan dengan niat dari seseorang. Misalnya sesorang suami istri menginginkan seorang anak laki-laki dan jika dikabulkan oleh yang maha kuasa maka didong niet akan dipersembahkan. Didong niet menceritakan sejak awal pertemuan kedua orang tua dari seorang anak yang di didong niatkan, dan pertamuan direstui oleh kedua belah pihak dan dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Cerita dilanjutkan sampai usia anak tersebut pada saat didong niet dipersembahkan.[]

Penulis adalah Munzirta Hudzaifa SM, beralamat domisili di Desa Cane Toa, Kec. Rikit Gaib, Kab. Gayo Lues. (Email: munzirtahudzaifa@gmail.com).

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here