Menelisik Asal-Usul Perkataan ‘GAYO´

0
566
Ist.
(Suatu Kajian Sejarah, sekaligus jawaban kepada Dr. Zulyani Hidayah, penulis Ensiklopedi Suku Banga di Indonesia)
Yusra Habib Abdul Gani, SH. Director Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark (yusragani@gmail.com)

Gayonese DocumentarySebelum menguraikan secara terperinci tentang asal-usul perkataan ’Gayo’, warkah ini ingin memberi suatu gambaran umum bahwa, penamaan terhadap sebuah kampung, daerah maupun negara dan bangsa sekali pun, ianya mempunyai latar belakang sejarah sendiri. Adakalanya penghuni setempat memberi nama bumi yang mereka pijak. Namun tidak dapat dinafikan bahwa, suatu tempat justeru diberi nama oleh pendatang asing. Kepulauan Bougainville misalnya, dinamai oleh Louise Antoine de Bougainville (1729-1811), seorang laksamana angkatan Laut Perancis yang punya hoby mengembara. Bougainville yang terletak di gugusan Kepulauan Solomon, penduduk asli disini tidak pernah memberi nama kepada bumi yang mereka diami. Louise Antoine de Bougainville akhirnya mengabadikan namanya sendiri menjadi nama Kepulauan tersebut yang dikenali hingga sekarang. Kini, Bougainville merupakan salah satu Provinsi yang mengamalkan model pemerintahan self-government dan sedang gigih berjuang memerdekakan diri dari cengkeraman Papua New Gunea (negara induk) atas alasan sejarah (historical legitimacy).

Menurut legendanya, sebutan ‘Aceh’ juga dituturkan oleh orang asing, yaitu apabila perahu pendatang dari India tersadai di tepi pantai ujung Utara Pulau Ruja (Sumatera). Saat berteduh di bawah pohon yang rindang, ada yang melafazkan: ‘Acha, Acha’ (Indah, Indah), untuk menggambarkan keindahan lokasi ini. Itulah bumi Aceh (kawasan Lamuri pada masa itu). Penduduk asli disini tidak pernah menyebut bumi yang dipijaknya sebagai Aceh, sehingga pendatang asing dari India menamai dengan ’Acha’ yang kemudian mengalami perubahan sebutan kepada ’Aceh’.

Berangkat dari mithos ini, maka manuskrip Eropah dari abad ke-16 – 18, menyebut ’Acha’ (Aceh) dengan ‘Achem’, ‘Achin’ atau ‘Atchin’.[1] Portugal menyebutnya ‘Acehm’; Perancis mengèja ‘Acin’; Inggeris menyebut ‘Atcheen’ dan ‘Achin’; Belanda menyebut ‘Achem’ dan ‘Achim’. Kalangan peniaga Arab menyebut ‘Asyi’.[2] Artinya, sebutan Aceh yang dièja dalam pelbagai bahasa, hanya menunjukkan nama sebuah lokasi pada peta dunia, bukan menunjuk kepada identitas atau bangsa.[3] Barulah kemudian muncul teori yang menyebut bahwa, ‘Aceh adalah satu bangsa yang berasal dari bangsa Achemenia (Achemenis) di Kaukasus (Eropa Tengah). Satu keturunan pindah ke Persia, satu suku lagi pindah ke ujung Pulau Ruja, yang kemudian dikenal sebagai bangsa Aceh’.[4] Proses pembentukan kebangsaan –negara kebangsaan– ini  pada gilirannya melibatkan pelbagai suku, seperti Sukèë lhèë reutôh ban aneuk drang, Sukèë Jak Sandang Jeura haleuba, Sukèë Tok Batèë na bacut-bacut, Sukèë Imeum Peuët njang gok-gok donja.[5]

Haiti yang dikenali sekarang; mengikut sejarahnya diberi nama Christoper Columbus sebagai La Isla Española (Pulau Spanyol) atau Hispañola yang kemudian berubah kepada ’Hispaniola’ dan terakhir disebut Haiti. Pada gilirannya, Haiti berjuang membentuk negara dan pemerintahan sendiri demi membebaskan diri dari penjajahan Perancis. Begitu juga sebutan ’Indonesia’, menurut riwayatnya diperkenalkan buat pertama sekali oleh James Richardson Logan (1819-1869), asal Skotlandia yang mengasuh Majalah ilmiah “Journal Of The Indian  Archipelago And Eastern Asia”  (JIAEA) tahun 1847 di Singapura. Pada tahun 1850, JIAEA menurunkan satu artikel dengan judul: “On The Leading Characteristics Of The Papuan, Australian and Malay-Polinisian Nations”.[6] Gorge Samuel Windsor Earl coba menggambarkan bahwa sudah saatnya diciptakan keseragaman sebutan “kepulauan Hindia” yang punya nama khas (a distinctive name) terhadap kepulauan dan penduduknya yang beragam suku, untuk menghilangkan kesalah-fahaman dengan sebutan India. Selanjutnya, Earl menguraikan bahwa ’the inhabitans of the Indian Archepelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunisian or Malayanisians.’[7]

Awalnya, Earl sendiri lebih tertarik kepada sebutan “Melayunisia” daripada “Indunisia”, selain karena penduduk di sini bertutur bahasa Melayu –bahasa percakapan sehari-hari (linguapranca)– juga dikenal sebagai race Melayu dan sebutan “Indunisia” agaknya lebih tepat untuk Ceylon (Srilangka) dan Maldives (Maladewa). Sementara itu, Logan berpandapat bahwa penyebutan India Archipelago dirasakan terlalu panjang, bahkan membingungkan. Untuk itu, walaupun memetik istilah “Indunisia” yang sebelumnya sudah diperkenalkan Earl, tetapi Logan mengamputasi huruf “u” dan menukar kepada “o”. Sejak itulah lahir “bayi” bernama “Indonesia” yang dimuat JIAEA pada halaman 254 dalam judul ‘The Ethnology of the Indian Archipelago’.

Selengkapnya Logan mengatakan, ‘Mr. Earl suggests the  ethnographical term Undunisian, but reject it in favour of Malayunisian. I prever the purely geographical term Indonesia; which is merely a shorter synonym for the Indian island or the Indian Archipelago.[8] Siapa pun tidak menduga dan menyadari, kalau idé Logan diterima sampai sekarang. Semenjak itu, kalangan pakar ethnologi dan geography secara resmi memakainya dalam penulisan berkaitan Indonesia. Bagaimana pun, Adolf Bastian (1826-1905) dari Universitas Berlin dianggap berjasa mempromosikan istilah “Indonesia” dalam ‘Idonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel’, berdasarkan hasil penelitiannya tahun 1884. Promosi Adolf Bastian tentang “Indonesia” telah turut mencuat dan merangsang kalangan penulis Belanda, walau pun pemerintah Belanda masih tetap tidak sepakat dan merasa benci, sebab dianggap menggugat ‘Nederlands East Indies’. Namun demikian, untuk tidak memalukan dan merasa ‘aib di kemudian hari, Belanda coba bertahan dengan sebutan ‘Nederlands East Indies’ dan membiarkan bergulir sebutan “Indonesia” baik dalam pertuturan dan literatur mengenai sejarah, geographi dan ethnogeographi, sebab pada akhirnya ianya memang bukanlah sesuatu yang sangat prinsip, sebagaimana dikatakan: ’Indonesia itu tidak berarti apa-apa, selain sebagai suatu sebutan arah di atas peta bumi saja, sampai pada waktu Belanda sadar lebih besar untung kepadanya kalau seluruh kepulauan Melayu disatukan di bawah sebuah pemeritahan penjajahan.’[9] Artinya, sebutan ’Indonesia’ hanya menunjukkan arah dan lokasi pada peta dunia, bukan nama suatu identitas sebuah bangsa. Kemudian baru muncul teori yang mencetuskan konsep negara kebangsaan Indonesia pada tahun 1928 lewat Sumpah Pemuda –berbangsa satu, bangsa Indonesia–  dan inilah urutan sebutannya: ’Melayunisia’ berubah kepada ’Indunisia’ dan terakhir disebut ’Indonesia’. Penamaan kota Jakarta yang dikenal sekarang, juga mengalami proses penamaan yang panjang. Pada awalnya, Jakarta disebut sebagai ’Jayakarta’ ketika zaman Sunan Fatahillah. Pada masa sebagian Pulau Jawa dijajah oleh Perancis (1794-1806), Napoleon merubahnya kepada ’Batavia’ (’republik Batavia’). Nama Batavia ini dikekalkan hingga pemerintah kolonial Belanda memerintah ’Nederlands East Indies’ (1596-1950) dan terakhir berubah kepada ’Jakarta’.

Sekarang tiba saatnya kita membahas asal-usul perkataan ’Gayo’. Berdasarkan asbabun nuzulnya, perkataan ’Gayo’ berasal dari dua teori yang diakui secara ilmiah oleh orang Gayo berdasarkan kekeberen.[10] Pertama, perkataan ’Gayo’ berasal dari bahasa ethnis Batak Karo[11] yang berarti ’Gerep’ (Kepiting yang hidup di rawa-rawa atau di Sungai). Lokasi tempat ’gerep’ ini hidup disebut ’Pegayon’. Yang menjadi catatan penting disini adalah, perkataan ’Gayo’, bukan menunjuk kepada pengertian ’GEREP’ (Kepiting), eksistensi dan identitas suatu ethnis atau bangsa; akan tetapi menunjuk kepada suatu arah LOKASI dalam peta bumi dunia bernama ’Pegayon’ (suatu lokasi rawa-rawa, dimana banyak hidup kepiting), terletak di Kampung Porang Blang Pegayon (Sekarang: wilayah administrasi Kabupaten Gayo lues). Pada zaman dahulu, penduduk yang datang dari kampung lain, maupun yang berada di sekitar lokasi, apabila hendak mencari Kepiting, mereka mengatakan: ’mau pergi ke Pegayon’.[12]

Dalam perkembangan selanjutnya, perkataan ’Pegayon’ ini mengalami proses perubahan sebutan dan ta’rif –dari sebutan ’Pegayon’ yang luasnya kurang dari 500 m.– berubah kepada nama sebuah negeri bernama ’Gayo’ (Dataran Tanah Tinggi Gayo)– yang mendakwa wilayah kedaulatannya seluas ’Selintang Batak, Sebujur Aceh. Ini merupakan klaim politik tapal batas geographi wilayah kekuasaan/kedaulatan kerajaan Linge, dimana Johansyah dan Putri Karna, disimbolkan sebagai ’Belo’, yaitu wilayah kerajaan Linge. Johansyah disimbolkan sebagai ’Ranup’, untuk wilayah Sultan Aceh dan Alisyah, disimbolkan sebagai ’Sirih’, untuk wilayah Sibayak Lingga dan Tanah Karo. [13] Berangkat dari sini, dirakit rumusan alamiah bahwa, penduduk yang mendiami wilayah yang disebut tadi menjalin ikatan kekerabatan dan ketatanegaraan hingga menyusun sebuah konsep kebangsaan Gayo. Di atas bumi bertuah inilah, mereka menyara hidup, beranak keturunan sebagai sebuah bangsa yang memiliki sistem dan struktur kerajaan, yaitu Reje mutimang beret si muharge; Tengku Imem perlu Sunet Buet Mulie; serta Sarak Opat tempat mupakat konol bersile,[14] tapal batas wilayah, identitas budaya, falsafah dan bahasa Gayo yang dikelompokkan kedalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia.[15]

Teori pertama ini secara morfologis[16] dapat diterima kebenarannya, karena dari sudut pandang anthropologi dan sosio-politik, perubahan nama dari ’Pegayon’ kepada ’Gayo’ merupakan proses alamiah, yang lazim berlaku dalam dunia ketatanegaraan dan ethno-georaphi; seperti sudah disentuh di atas. Bahkan Pidië –salah satu Kabupaten di Aceh– juga mempunyai sejarah panjang, yaitu antara tahun 1400-1500-an, Pidië dikenali sebagai Poli dan kerajaannya dinamakan kerajaan Poli. Pada gilirannya, nama Poli berubah kepada Pedir. Nama Pedir masaih tetap eksis hingga awal abad ke-19, dimana tempat penandatanganan Perjanjian Rafless pada 22 April 1819, berlangsung di Pedir; bukan di Poli dan bukan pula di Pidië. Nama Pidië, secara resmi baru muncul dan diakui setelah dikeluarkan Undang-undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 1956, tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Aceh, dimana pada pasal 1, nama Pidie disebut sebagai salah Kabupaten dalam lingkungan wilayah administratif Provinsi Aceh. Disini dapat dilihat kronologi sebutannya: Poli, berubah kepada Pedir dan akhirnya berubah menjadi Pidië.

Teori kedua menyatakan bahwa, perkataan ’Gayo’ berhubung kait dengan peristiwa tragis yang menimpa Merah Mege,[17] ketika enam saudaranya (abang) bersepakat menjebloskan Merah Mege kedalam sebuah Telaga tua di Loyang Datu atas alasan merasa irihati, karena Muyang Mersa[18] (Ayah) dinilai pilih kasih –lebih menyayangi Merah Mege– berbanding enam abang kandung lainnya. Saat disadari oleh Muyang Mersa bahwa anak bungsunya sudah hilang, maka upaya pencarian pun dilakukan oleh penduduk setempat dan setelah berhari-hari dilakukan pencarian, Merah Mege berjaya ditemukan atas bantuan seekor anjing peliharaan Muyang Mersa bernama Pasé, yang rupa-rupanya setiap hari secara rahasia memasok makanan kedalam telaga tua itu, dimana Merah Mege berada. Pencarian membuahkan hasil, dimana Merah Mege berjaya diselamatkan dalam keadaan selamat hidup. Ketika masyarakat yang menemukan Merah Mege, maka secara spontas mereka berteriak sambil melafazkan ’DirGayo’, ’DirGayo’, ’DirGayo’, yang bermakna ’Selamat/sehat wal’afiat’.[19] Pada gilirannya, perkataan ’DirGayo’ mengalami proses perubahan kepada ’Gayo’ berarti (selamat sejahtera) dengan menghilangkan huruf ’Dir’. Peristiwa yang dialami oleh Merah Mege ini, mengingatkan kita kepada kisah Nabi Yusuf AS yang dizalimi oleh enam saudara kandungnya (abang), yang kemudian diselamatkan, seperti mana dikisahkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an.[20]

Riwayat ini dikisahkan secara turun-menurun dalam bentuk syair dan kekeberen (Hikayat) di kalangan masyarakat Gayo dari sejak zaman itu hingga sekarang. Kekeberen adalah satu-satunya metode yang dipakai untuk menyelamatkan fakta sejarah Gayo, sekaligus dianggap sebagai Mezium bergerak yang tersimpan dalam ingatan orang Gayo –tidak disimpan dalam bentuk dokumen tertulis– mengingat belum ditemukannya tehnologi percetakan kertas pada masa itu dan masyarakat Gayo mengakui dan berani bersaksi di atas keabsahan riwayat ini.

Dikisahkan bahwa, ke-enam-enam anak Muyang Mersa ini memohon diri kepada Ayahnya untuk meninggalkan tanah Gayo, karena tidak sanggup menahan rasa malu kepada ahli keluarga dan masyarakat atas tindakan yang telah berlaku terhadap adik bungsunya (Merah Mege). Oleh itu, Merah Bacang (anak sulung), mengasingkan diri ke daerah Batak untuk mengembangkan Islam khususnya ke daerah Barus, Tapanuli; Merah Jernang (anak kedua) mengasingkan diri dan mengembangkan ajaran Islam ke daerah Kala Lawé, Meulaboh;[21] Mérah Pupuk (anak ketiga) mengasingkan diri dan mengembangkan agama Islam ke daerah Lamno Daya; Merah Putih Dan Merah Item (anak ke-empat dan kelima) yang kemudiannya digelari sebagai Mérah Dua, mengasingkan diri dan mengembangkan ajaran Islam ke daerah Beracan (sekarang: Meureudu).[22] Kuburan kedua bersaudara ini terdapat di wilayah Meureudu, Pidie Jaya; Mérah Silu[23] (anak keenam) mengasing diri dan mengembangkan ajaran Islam ke daerah Gunung Sinabung dan daerah Kluet. Difahamkan bahwa, sebagian masyarakat Kluet hingga kini masih berbahasa Gayo dan keturunan Merah Silu berkembang biak di sana hingga sekarang. Malangnya,komunitas masyarakat yang berbahasa gayo di Kluet ini tidak ada hubungan silaturrahmi dengan masyarakat gayo di Gayo Lot dan Gayo Lues. Sementara Merah Mege yang menetap di tanah Gayo, dipercayakan oleh ayahnya menjaga harta warisan Ayahnya (Muyang Mersa). Beliau dikuburkan di Wihni Rayang, terletak di Lereng Keramil Paluh, daerah Linge, Aceh Tengah, yang hingga kini masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk. Di kalangan masyarakat Isaq, urutannya anak keturunan Muyang Mersa sbb: Mërah Fahat, Mërah Caga, Mërah Silu, Mërah Item, Mërah Poteh, Mërah Jernang dan Mërah Mëgë.[24] Disini nampak bahwa, Merah Bacang dan Merah Pupuk berbeda panggilannya. Ini boleh jadi berlaku dan lazim berlaku dalam peradaban masyarakaat Gayo khususnya dan dalam masyarakat Arab dan Aceh umumnya. Qurrata’aini misalnya, lebih dikenali dengan panggilan Datuberu, yang makamnya di Tunyang, Bener Merie; Jahin, lebih populer dengan panggilan Tengku Ilyas Leubé, asal Kenawat, dikuburkan di Bener Lampahan. Dalam masyarakat Arab, Muhammad bin Idris mislanya, lebih dikenali dengan panggilan Imam Imam Syafie (Pendiri mazhab Syafie. Dalam masyarakat Aceh pesisir mislanya, Tengku Muhammad Saman di Tiro, lebih dikenali dengan panggilan Tengku Thjik di Tiro, asal Kampung Tiro, Pidie, dikuburkan di Kampung Meurue, Aceh Besar.

Malik Ishaq yang berasal dari Peureulak (sekarang masuk wilayah Aceh Timur), difahamkan bahwa pada tahun 988 Masehi, beserta para pengikutnya dari wilayah Peureulak menyelamatkan diri ke daerah Gayo (Isaq). Kehadiran mereka ke tanah gayo adalah sebagai pelarian politik (political refugees), atas sebab peperangan panjang yang meletus antara kerajaan Islam Peureulak di bawah Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan yang memerintah (986-1023) melawan serangan kerajaan Seriwijaya selama 20 tahun lamanya; yang memaksa Sultan Peureulak mencari alternatif, supaya menyiapkan perbekalan perang. Untuk itu, Malik Ishaq –saudara kandung Sultan Peureulak– bersama para pengikutnya mencari lahan tanah subur untuk bercocok tanam. Pilihannya adalah tanah Gayo, seperti kampung Kute Rayang, Kute Robel, Kute Keramil dan lain-lainnya. Kehadiran Malik Ishaq beserta pengikutnya, bukan saja diterima dengan senang hati oleh orang Gayo (penduduk asli Isaq) sebagai pelarian politik, tetapi juga penguasa setempat telah mengabulkan permintaan Malik Ishaq untuk mendirikan kerajaan, yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Islam Malik Ishaq, berpusat di Isaq. Pelarian politik asal Peureulak ini, sebagian kembali ke wilayah Peureulak, sebagiannya lagi menetap di tanah Gayo yang diakui sebagai ’new Gayo men’ Keturunannya berkembang-biak hingga sekarang di tanah Gayo dan sebagiannya menyebar ke wilayah Aceh pesisir. Ada pendapat mengatakan bahwa, Muyang Mersa yang merupakan keturunan langsung dari Malik Ibrahim (Merah Ibrahim), yaitu saudara kandung dari Malik Ishaq beserta keturunannya, dipastikan sudah memeluk agama Islam semenjak kerajaan Malik Ishaq didirikan pada 337 Hijriyah/988 Masehi.[25] Sementara itu, pendapat lain menyebut, Muyang Mersa adalah anak dari Maulana Ishak sendiri.[26] Bagaimana pun, kerajaan Malik Ishaq ini tetap menjalin hubungan persaudaraan dengan Kesultanan Perlak –sebuah kerajaan Islam tua di Sumatera– berdiri pada 1 Muharam 225 H/840 – 1292 Masehi.

Selain kerajaan Malik Ishaq, di tanah Gayo wujud kerajaan Linge berpusat di Buntul Linge,[27] yang posisinya berdekatan dengan pusat Kerajaan Malik Ishaq di Isaq. Pendiri kerajaan ini dikabarkan berasal dari Rum (Konstantinople di bawah empayer Byzantine yang beragama Nasrani).[28] Kerajaan Linge didirikan pada tahun 1025 M (416 H) dengan raja pertamanya adalah Adi Genali,[29] bertepatan dengan masa Sultan Machudum Johan memerintah Kerajaan Perlak.[30] Kerajaan ini memiliki sistem pemerintahan yang disebut sarak opat: terdiri dari Reje, Petue, Imem dan Rakyat.[31] Konstitusi kerajaan Linge didasarkan kepada nilai-nilai Islami dituangkan kedalam 45 fasal,[32] yang mengatur pelbagai aspek kehidupan masyarakat di bawah pemerintahan kerajaan Linge.

Berangkat dari fakta di atas, maka orang Gayo sesungguhnya sejak tahun 988 Masehi lagi –yaitu sejak berdirinya kerajaan Malik Ishaq di Isaq– dan semenjak tahun 1025 Masehi –yaitu tahun berdirinya kerajaan Islam Linge di Buntul Linge– dimana agama Islam sudah dianut dan kandungan al-qur’an diadopsi kedalam tamadun gayo melalui pendekatan budaya, tradisi, adat-istiadat, resam yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Gayo; seperti perintah Allah yang dimuat dalam surat Luqman, ayat 18-19 dan surat An-Nur, ayat 27 – 31, diterjemahkan dan dijabarkan kedalam konsep SUMANG dalam masyarakat gayo. Oleh itu, bandingkan dengan eksistensi kerajaan Samudera Pasai –sekarang merupakan wilayah administrasi Kabupaten Aceh Utara di Pesisir Aceh– yang baru berdiri pada tahun 1267 Masehi. Dengan perkataan lain, setelah 242 tahun lamanya kerajaan Islam Linge wujud dan atau sesudah 279 tahun lamanya berdirinya Kerajaan Islam Malik Ishaq wujud di tanah Gayo, barulah berdiri Kerajaan Pasai (1297-1326 M). Apalagi, yang menjadi Sultan Samudera Pasai pertama adalah Merah Silu (anak lelaki sulung dari Merah Sinabong (Merah Sinôbông). Merah Silu inilah yang kemudiannya lebih dikenali dengan nama Malikul Shaléh. Merah dalam bahasa gayo = Malik dalam bahasa Arab; Silu dalam bahasa gayo = Shaléh dalam bahasa Arab.[33] Memandangkan akuratnya fakta sejarah Gayo di atas, maka sungguh mengejutkan, apabila kemudian muncul pendapat/teori bernada ’sungsang’ tentang asal-asul perkataan ‘Gayo’ yang menyebut bahwa, ”… nama Gayo berasal dari kata ’kayo’ yang berarti ”takut” atau melarikan diri”.[34] Tanpa melakukan penyelidikan, kajian secara komprehensif terlebih dahulu dan konfirmasi dari tokoh-tokoh dan sejarawan Gayo, penulis telah berasumsi bahwa teori tersebut diperoleh dari sumber gelap (dha’if) yang tidak dapat dipercayai; menyebut bahwa ’… menurut sementara orang, pada waktu agama Islam masuk sebagian penduduk pesisir melarikan diri…..’.[35]

Jika dilacak dan ditelusuri tentang asal-usul munculnya pendapat ini, diprediksi bersumber dari buku ’Tarikh Aceh Dan Nusantara’, ditulis oleh H.M. Zainuddin, yang berpendapat bahwa ’nama Gayo berasal dari kata ’kayo’ yang berarti ”takut”.[36] Sehubungan itulah, Tengku Ilyas Leubé[37] pernah menawarkan kepada H.M. Zainuddin semasa masih hidup untuk berani berdebat di depan khalayah umum, semata-mata untuk mempertanggungjawabkan pendapatnya secara ilmiah. Malangnya, setelah tarikh berdebat disepakati, H.M. Zainuddin telah pun lebih awal berpulang ke Rahmatullah. Akibatnya, pendapat yang dilontarkannya menjadi terbengkalai[38] dan menyisakan masalah krusial tentang sejarah Gayo yang tidak sempat diklarifikasi oleh penulisnya hingga sekarang.

Jika dikatakan bahwa orang Gayo itu takut kepada ajaran agama Islam, sehingga memilih melarikan diri (‘Kayo’) ke dataran tinggi tanah Gayo adalah sungguh menggelikan dan mentertawakan, oleh karena dari kisah yang dipaparkan di atas, jelas menunjukkan bahwa setelah 242 tahun lamanya kerajaan Islam Linge wujud dan atau sesudah 279 tahun lamanya berdirinya Kerajaan Islam Malik Ishaq wujud di tanah Gayo, barulah berdiri Kerajaan Pasai (1297-1326 M). Lagi pula, nama-nama anak lelaki, cucu dan cicit dari Muyang Mersa yang disebut dalam warkah ini; justeru berperan sebagai penyebar agama Isam ke pelbagai wilayah Aceh pesisir; bahkan Meurah Johan Syah (anak sulung dari Reje Linge pertama), bukan saja dilantik menjadi Sultan Aceh Darussalam pertama yang memerintah (1205-1235 ),[39] beliau bersama dengan Syèh Abdullah Kan’an (Tengku Thjik Keuneu-eun) juga telah berjasa meng-Islam-kan dan menyatukan beberapa kerajaan kecil, seperti kerajaan Seudu, Inrapurba, Indrapatra, Indrapuri dan Langkrak  yang terletak (di wilayah Aceh Besar sekarang ini).[40] Lantas, darimana logika berfikir Zulyani Hidayah hingga berani menyimpulkan bahwa, orang Gayo yang telah berjasa meng-Islamkan dan menyatukan masyarakat Aceh pesisir, justeru didakwa sebagai ‘kayo’ kepada ajaran Islam?

Dalam konteks lain misalnya, kalaulah orang Gayo dikatakan ‘kayo’ = takut atau melarikan diri; takkan persepsi dan pendapat yang menyebut bahwa, ‘calon Sultan mau pun Panglima Polem bersama pasukannya dan banyak orang Aceh kenamaan lainnya, akibat pasukan Belanda tiada henti-hentinya mememburu mereka, telah mengundurkan diri bersama pasukannya dari daerah-daerah pantai Aceh ke daerah Laut Tawar (Gayo) pada tahun 1901.[41] Pada hal penanaman kekuasaan Belanda mencakupi seluruh Aceh hingga ke tanah Gayo dan Alas, sebab penduduk dari tanah Gayo turut aktif menunjang perlawanan terhadap Belanda dengan uang dan pasukan perang, bahkan memberikan perlindungan kepada musuh-musuh Belanda yang menyingkir.[42] Fakta tersebut tidak dapat dipungkiri dan dinafikan oleh siapa pun.

Terdapat beberapa alasan yang membuktikan tentang sesalahan dan ketidak absahan pendapat ini. Pertama, pelarian politik asal wilayah Peureulak yang mencari perlindungan politik di tanah Gayo –yang wilayahnya, seperti Lukup Serbejadi dan Pulo Tige– merupakan kawasan yang berbatasan langsung dengan wilayah kerajaan Peureulak (sekarang berada dalam wilayah Kabupaten Aceh Timur). Kehadiran mereka ke wilayah Gayo, semata-mata menyelamatkan dan mempersiapkan diri untuk menghadapi perang panjang antara kerajaan Peureulak versus kerajaan Seriwijaya selama 20 tahun; bukan karena alasan takut memeluk agama Islam di Aceh pesisir sehingga lari ke wilayah Gayo, yang kemudian di-identik-kan sebagai orang Gayo. Pelarian politik asal Peureulak ini, bahkan diberi restu oleh penguasa setempat untuk mendirikan kerajaan Islam Malik Ihaq di Isaq (Gayo). Kedua, rakyat Aceh Pesisir yang mendiami wilayah sebelah Utara (Kerajaan Jeumpa dan Pasé) yang berbatasan langsung dengan Tanah Gayo, tidak ada yang melarikan diri ke Gayo atas sebab takut kepada Islam –yang ditafsirkan menjadi orang Gayo– oleh karena agama Islam ratusan tahun lebih awal hidup dan berkembang di Gayo, seperti telah disinggung di atas. Ketiga, sebuah fakta tidak dapat dinafikan bahwa, Sultan Malik Ahmad, yaitu saudara kandung dari Malikul Saleh (salah seorang anak lelaki dari Merah Sinôbông) dinobatkan sebagai raja Jeumpa menggantikan ayahnya mertuanya. Sementara itu, Malikul Saleh dinobatkan menjadi Sultan Pase pertama di kerajaan Islam Pase. Dengan perkataan lain, Malik Ahmad dan Merah Silu adalah cicit dari Muyang Mersa.

Akhirnya, pendapat yang menyebut  ’… nama Gayo berasal dari kata ’kayo’ yang berarti ”takut” atau melarikan diri’ adalah irrational, tidak realistik, kontroversial, bahkan kontradiksi dengan fakta sesungguhnya, seperti sudah disentuh di atas. Memandaangka hal itu, buku ’Ensiklopedi Suku Banga di Indonesia’ yang sempat beredar dan menjadi rujukan dalam penulisan –khususnya tentang sejarah Gayo –yang mendapat izin dari Departemen Pendidikan & Kebudayaan RI untuk diterbitkan, supaya dinyatakan tidak sah untuk dijadikan sebagai rujukan sejarah Gayo dalam penulisan Disertasi, Tesis, Skripsi maupun makalah di semua Institusi pendidikan. Untuk seterusnya melarang buku tersebut diedarkan dan disimpan di seluruh Perpustakaan dalam wilayah NKRI, sebelum dilakukan revisi; oleh sebab ianya sangat berlawanan dengan fakta sejarah Gayo yang sebenarnya.

Gagasan

Pemerintah Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara diharapkan bersedia memfasilitasi sebuah forum ilmiah –Seminar atau Simposium– dengan menghadirkan Dr. Zulyani Hidayah, penulis Ensiklopedi Suku Banga di Indonesia. Tujuannya untuk meminta penjelasan, mempertanggungjawabkan, mengklarifikasi, sekaligus mengeluarkan rekomendasi bantahan kepada Dr. Zulyani Hidayah, berhubung tulisannya yang dinilai kontroversi. Rekomendasi tersebut diteruskan kepada Menteri Pendidikan & Kebudayaan RI dengan menyertakan tulisan (kertas kerja) ini.

Ini Tanggapan Atas Tulisan Asal-Usul Kata ‘GAYO’

Yusra Habib Abdul Gani[43]

Berikut sejumlah komentar di facebook terkait tulisan tersebut tanpa proses editing dari redaksi. Antaranya mengatakan: ’Tulisan Bagus… Menarik juga untuk menelisik asal usul sebutan Umong (petak sawah) di beberapa kab/kota di pesisir aceh dengan sebutan Ume di gayo lues.. Bisa jadi perumpamaan umong/ume seperti ibu/ummi/mak..begitu juga sebutan blang di kawasan pesisir aceh untuk kawasan umong, kemungkinan juga berasal dr sebutan blang di Gayo Lues yg bermakna hamparan? secara historis dan geografis gayo lues memiliki korelasi erat dengan Samudera Pasai.. nampaknya budidaya/budaya sawah lebih tua di gayo lues di bandingkan kawasan pesisir?’[44] Diteruskan juga, ’Saya lebih yaqin dan rasionalis argumen ilmiah yang dikemukakan Dr Yusra Habib, dibanding yang diuraikan, Dr Zulyani Hidayah, semoga Pemerintah tidak kecolongan dalam menancapkan sejarah seperti kesalahan penetapan pusat peradaban Islam pertama di Barus, bukan Pase.’[45] Dikatakan pula, ’Oh oh…ternyata awak gampong lon dari Gayo chit, Merah Puteh dan Merah Item mengasingkan diri ke Belacan (sekrang disebut Beuracan), gampong lon. Selama ini orang-orang Meureudu atau meurah dua meyakini bahwa ásal muasal daerah ini adalah dari Dua Gajah Sultan Iskandar Muda yang sedang melakukan perjalanan ke wilayah Utara. Tanpa diketahui penyebabnya, dikisahkan gajah-gajah tersebut duduk tidak mau bergerak disana. Duduk dalam bahasa Aceh dikenal dengan ’du’. Sementara Gajah, sering dilakapkan dg nama lain sebagai ‘Meurah/pomeurah’. Karna gajah itu ’du’ maka kemudian masyarakat menyebutnya Meurahdu atau Meurahdua. Dan gajah ini menjadi simbol wilayah Pijay saat ini. Sementra Meuracan, memang dikisahkan ada kaitan dengan Belacan tetaii saya baru pertama sekali membaca ini bahwa ternyata pernah diduduki oleh dua Meurah dari Gayo. Trims kanda Dr Yusra Habib Abdul Ghani….sangat mencerahkan.’[46] Ada pula yang memeberi komentar sbb: ’Abangda Dr Yusra Habib Abdul Ghani tulisan anda berpengaruh pula terhadap hasil Kongres 1 dan Kongres 2 Islam Masuk ke Nusantara… Silakan kita cermati. Cc. Muhammad Adli Abdullah Bawarith, Husaini Ibrahim. Tulisan Dr Yusra Habib Abdul Ghani penting di nasional dan internasionalkan karena pendapat bang Yusra ttg Kerajaan Islam Isaq semakin memperkuat hasil Kongres Kedua Islam masuk ke Nusantara melalui Aceh pd Abad ke VIII, bukan Abad 13. Teori ini senada dg pendapat berdirinya Kerajaan Islam Isaq Gayo pada tahun 1025. Jika abang pulang Ke Indonesia, Aceh, Darussalam saya akan berikan makalah tulisan Prof Azyumadi Azra, Prof Farid Wajidi, Dr Husaini Ibrahim.’[47]

Selain itu dikatakan, ’Sebagai putra Aceh kelahiran Peureulak, saya memang banyak dengar dari orang – orang tua, kalau suku Gayo dan Aceh itu bersaudara. Peureulak pernah buat pusat pemerintahan di pedalaman Aceh dua kali. Pertama saat perang melawan Sriwijaya dan kedua saat perang saudara ( syiah – Sunni ). Jadi, penjelasan kanda itu sudah cukup jelas untuk generasi sekarang agar tidak ada kata – kata yang memojokkan masyarakat pedalaman. Walau ini perlu penelusuran sejarah lebih lanjut.’[48]‪  Ditambahkan pula bahwa, ’Catatan sejarah yang di tulis oleh orang bergelar telah banyak melahirkan salah tafsir di kalangan orang Aceh pesisir (Aceh Rayeuk, Aceh timur,pidie,dan Utara), seharusnya sejarah itu di tulis berdasarkan rekam jejak sejarah itu sendiri, bukan berdasarkan mimpi, terimakasih kepada penulis YUSRA HABIB ABDUL GHANI’[49] Pendapat lain menyebut, ’menarik tulisannya Cik, tapi di sini saya sebagai PUTRA ASLI KUTE RAYANG, kampung pertama di Isak yang didirikan oleh Maulana Malik Ishak sekaligus dalam kapasitas saya sebagai pewaris sah kitab warisan Maulana Malik Ishak mencoba memberikan sudut pandang berbeda dari tulisan ini. Sebagai pembanding, di sini ditulis “Dikatakan bahwa, Muyang Mersa merupakan keturunan langsung dari Malik Ibrahim (Merah Ibrahim), yaitu saudara kandung dari Malik Ishaq. Ini berbeda dengan cerita yang disampaikan secara turun temurun kepada ke kami di Isak (secara khusus Kute Rayang). Di Isak dikatakan Muyang Mersa adalah anak dari Maulana Ishak sendiri dan berdirinya Isak adalah atas persetujuan Reje Linge. Kemudian anak-anak Muyang Mersa versi kami di Isak, secara berturut-turut adalah : “Merah Fahat, Merah Caga, Merah Silu, Mërah Item, Merah Poteh, Merah Jernang dan Merah Mege.”[50] Ada yang mengaku bahwa tulisan ini ’pencerahan fakta sejarah yg bermanfaat’[51]  dan ’ini luar biasa pak….jadi kesimpulenne Seminar sebaik e sahan pelen narasumber e pak keti representatif dan tentue diakui secara ilmiah…apakah goal seminar hanya mematahkan pendapet wan buku eksplodi suku bangsa di Indonesia atau kite juga perlu mengundang sejarahwan laen ne.[52] Sehubungan itu, ’luar biasa cek YUSRA HABIB ABDUL GANI’[53] dan ’salut, bukan karena mau fokus pada penemuan orang2 kerajaan, tapi yg model karya sekomplit bgini tentang Gayo blm pernah terpublikasi, sumber rujukannya juga terasa baru, meski soal perfektif atau tidak: karya ini bagi saya cukup mewakili, memberi jawab, manalagi dari cara meraciknya, sedap dan menyegarkan, buat saya ini hidangan otak terbaik tahun 2017, berkelas dan mahal. Karenanya ucapan terimaksih yg setinggi-tingginya untuk Tgk. Yusra Habib Abdul Gani, terimaksih.’[54]

‪Dalam media sosial facebook, berduyun-duyun orang menyampaikan responsnnya. Misalnya, ada yang menyampaikan pesan, ’mantap Ama Yusra Habib Abdul Ghani, Saya dari dulu pernah memdengarkanya, tapi ndak punya literatur sumbernya, trrima kasih.[55] Tulisan yg luar biasa pak Yusra Habib Abdul Ghani, perlu masa untuk menghayatinya.[56] Luar biasa ayahanda.[57] Darimana asal bahasa Aceh dan bahasa gayo? Apakah kedua bahasa itu saling terkait atau masing2 bahasa punya sejarah asal yg berbeda? Apakah stlh berdiri kerajaan Peureulak dan pase yg keduanya mnrt tulisan di atas berasal dari kerajaan yg sama yaitu linge, kemudian bahasa gayo di kembangkan mnjadi bahasa Aceh?[58] Saya lebih yaqin dan rasionalis argumen ilmiah yang dikemukakan Dr Yusra Habib, dibanding yang diuraikan Dr Zulyani Hidayah, semoga Pemerintah tak kecolongan dalam menancapkan sejarah seperti kesalahan penetapan pusat peradaban Islam pertama di Barus ,bukan Pasee.[59] Luar biasa juga sejarah dari tanohgayo…[60] Ama Yusra Habib Abdul Ghani..ijin copy boh ama…?[61] Tulisan bg Yusra Habib Abdul Ghani selalu menginspirasi ku ttg “hebat dan Kuatnya” Gayo menghegemoni Aceh masa lalu sehingga Gayo lah the true Aceh sebenarnya.Namun proses zaman tlh melunturkan “wibawa” Gayo secara eksternal maupun internal atas nama politik…mungkin.[62] Oh oh…ternyata awak gampong lon dari Gayo chit, Merah Puteh dan Merah Item mengasingkan diri ke Belacan (sekrang disebut Beuracan), gMpong lon.[63] Selama ini orang2 Meureudu atau meurah dua meyakini bahwa ásal muasal daerah ini adalah dari Dua Gajah S…[64] Ada yang berupaya untuk mengaburkan sejarah ‘Gayo’, sedari dulu kami meyakini pasti ada Maksud tertentu sang pengabur sejarah tersebut,…sampai saat ini Kami Juga masih merasakan beberapa pengaburan sejarah terutama tentang Nama Kampung, Nama Jembatan…[65]

Wassalam wr wb pak yusra Habib abdul gani, kami sarankan sependapat agar nama Gayo di Seminarkan setelah di lantik pak shabela Ab dan Firdaus sebagai Bupati dan Wakil Bupati desember 2017 brizin.[66] Abangda Dr Yusra Habib Abdul Ghani tulisan anda berpengaruh pula terhadap hasil Kongres 1 dan Kongres 2 Islam Masuk ke Nusantara… Silakan kita cermati. Tulisan Dr Yusra Habib Abdul Ghani penting di nasional dan internasionalkan karena pendapat bang Yusra ttg Kerajaan Islam Isaq semakin memperkuat hasil Kongres Kedua Islam masuk ke Nusantara melalui Aceh pd Abad ke VIII, bukan Abad 13. Teori ini senada. Cc. Muhammad Adli Abdullah Bawarith, Husaini Ibrahim,[67] Semoga bermanfaat.[68] Berizin Bg nge Ara pencerahan Ken fakta sejarah,,,jroeh peudeh…[69] Wah…ga hbs2nya Sejarah Aceh n Gayo, ni perlu dilakukan seminar di Aceh dg mengundang ahli sejarah Aceh, interesting… very interesting.[70] Mestinya ditulis dalam bentuk buku Bang.[71]  Setuju,,,pendapat Bg Herman RN..[72]  ndak bsa di share lago bg..coba ubah statusnya ke publik[73] Tabi pak, niro izin nge ku copas ku Blog WordPress ku pak.[74] Privasi statusnya di ubah menjadi “Publik” bang, biar bisa dibagikan.[75] Pencerahan untuk kita semua. Keremenpe desertasi a sara ken ne nong.[76] Ulasan Yang Bergelora dan Bercahaya, Cocok Taboh Tema (Runtuhnya Plagiator Sejarawan Asing)[77] Cik, aku muniro izin ken mingirim ulang tulisen ini[78]‪  Cik , izin share miyen tulisen cik ni.[79] Kalau kepiting di bawah batu maksutnya apa ya…?[80] Add Yusra Habib Abdul Gani , berijin tulisan yg sangat mengagumkam,kita harapkan tdk ada saling merendahkan antara etnis di Aceh ,mari samas kita bangun Aceh secara menyeluruh tdk ada lagi di anut konsep pecah belah penjajah,RATIB MUSARA NANGUK NYAWA MUSARA PELUK. Yg lari kan orang itu takut kpd pasukan Sriwijaya, pddk Asli di Tanoh Gayo sdh ada sejak 5000 Thn lalu sesuai situs sejarah Loyang Mendale Kebayakan.[81]  Brijin bg nge mutamah ilmu tentang asal usul urang te ni bg..[82] Subhanallah.. Sungguh suatu larangan untuk berasumsi sebelum memahami isi. Izin copas. Terima kasih pak. Nyata bermanfaat. Ajrakallah [83]  Ada yang nanyak juga seukee nyan pue, bi penjelasan bacut apakah suku atau kaum yang datang ke aceh.[84]  Izin share bang, saya Syafruddin Arlem dari Gayo Lues.[85] Akhirnya, ada yang beri komentara begini, …Jayami gayo ku…[86]

Wallahu’klam bissawab!

========================================================

[1] Denys Lombard, 1986, Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Balai Pustaka, Jakarta.

[2] Sebutan ’Asyi’, diabadikan menjadi nama Konstitusi Aceh, yaitu ’Qanun Al-Asyi’ (Meukuta Alam), tidak disebut Qanun Aceh, yang bermula sejah Sultan Ali Mughayatsyah yang memerintah (1511-1524).

[3] Yusra Habib Abdul Gani, 2016, Sejarah Perjuangan Mendaulatkan Negara Islam Aceh 1873-2005, Tesis yang dipertahankan pada 23 Agustus 2016 pada Fakultas Sains Sosial & Kemanusiaan , Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).

[4] M. Adli Abdullah, 2011, Sejarah “Asal Mula Bangsa Aceh”. Aceh Zone. Aceh News & International online, 22. 2011, dikutip dari Catatan Affan Jamuda dan AB. Lilawangsa, Pelajaran Mengenal diri-sendiri. Pidie: Angkasa Muda, 2000.

[5] Dr. Mohd Harun, 2009, M.Pd. Memahami Orang Aceh, Citapustaka, cetakan pertama Media Perintis. HM. Zainuddin, 1961, Tarich Aceh dan Nusantara.

[6] Gorge Samuel Windsor Earl. “Journal of  The Indian  Archipelago and Eastern Asia” (JIAEA), Vol. IV, hlm. 66-74, 1850.

[7] Ibid. Hlm. 71.

[8] James Richardson Logan, “Journal Of The Indian Archipelago and Eastern Asia” (JIAEA), Vol. IV.  Article: “The Ethnology of the Indian Archipelago”. hlm 254.

[9] Henry Kissinger, 1969, Nuclear Weafons and Foriegn Policy, hlm. 256.

[10] Kekeberen adalah sama dengan Hikayat dalam sastera Melayu dan sastera Aceh, dimana penutur mengisahkan sejarah Gayo dalam bentuk cerita (Kekeberen) secara turun-menurun tanpa ditulis, karena memang tidak tersedia kertas pada masa itu. Tujuannya untuk menghindari punahnya fakta sejarah yang berlaku.

[11] Sebuah ethnis kecil yang merupakan satu bagian komunitas yang tidak terpisahkan dengan orang Gayo; pada awalnya bertempat tinggal di Kampung Porang (sekarang: merupakan wilayah pemerintahan Gayo Lues). Suku dan masyarakat di sekitar Kampung Porang inilah yang mula-mula menuturkan tentang keberadaan lokasi ’Pegayon’. Selanjutnya, ketika meletus konflik politik horizontaal yang bernuansa SARA, suku ini terpaksa menyelamatkan diri ke wilayah Karo (sekarang: berada dalam wilayah pemerintahan Provinsi Sumatera Utara). Untuk dimaklumi bahwa, perkataan ’Karo’ itu sendiri, tidak dikenal dalam bahasa Batak Karo, kecuali dalam bahasa Gayo yang berarti ’Kejar/buru’. Ini ada hubungannya dengan kisah yang meriwayatkan bahwa suku kecil ini memang dikejar atas alasan menolak ajaran Islam; sehingga mereka dikejar, diusir dan terpaksa melarikan diri ke wilayah lain (Karo). Pada tahun 1950-an, masyakat suku Batak Karo sejumlah 1500 orang, telah di-Islam-kan oleh Tengku Ilyas Leubé. Untuk meluahkan rasa syukur –dari penganut ’Pelbigu’ (ajaran animisme) kepada agama Islam, maka masyarakat Batak Karo sepakat untuk menobatkan dan mengukuhkan Tengku Ilyas Leubé dinobatkan menjadi Raja Linge yang ke-18 yang dimeriahkan dengan pemotongan hewan Kerbau sebanyak 18 ekor. Kini, Bawar raja Linge yang disandang oleh Tengku Ilyas Leubé masih disimpan oleh keluarga Adri Istanbul Lingga Gayo, Tigabinanga, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Testimoni Tengku Ilyas Lebé, 1976, Transliterasi Orasi Tgk H Ilyas Leube – Bag 1] Hikayat/Sejarah Gayo, Bag. 1, dokumen milik Prof. Dr. H. Tgk. Baihaqi AK, 26 April 1976. Disalin oleh Tauhid Mawardi, mahasiswa Jurusan Teknik Informatika di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh Utara. Hal ini merupakan salah satu fakta bahwa masyarakat Batak itu berasal dari bangsa Gayo. Lihat juga: ulasan DR. Ketut Wiratnyana berhubung temuan artefak dan gerabah serta kerangka manusia purba di Loyang Mendale dan Tanjung Karang, yang sudah wujud 7500 tahun yang lampau, sekaligus menjungkir-balikkan fakta yang telah diakui selama beratus-tahun yang mengatakan bahwa, asal-usul orang Gayo berasal dari suku Batak, justeru yang benar adalah sebaliknya: Orang Bataklah yang berasal dari suku Gayo.

[12] Testimoni Tengku Ilyas Lebé, 1976, Transliterasi Orasi Tgk H Ilyas Leube – Bag 1] Hikayat/Sejarah Gayo, Bag. 1, dokumen milik Prof. Dr. H. Tgk. Baihaqi AK, 26 April 1976. Disalin oleh Tauhid Mawardi, mahasiswa Jurusan Teknik Informatika di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh Utara.

[13] Asyaryadi, SE, MBA, 2008, Linge Ku Sayang Linge Ku Malang, Penerbit Qinara, hlm. 23.

[14] Ibid, 2008, hlm. 52.

[15] Domenyk Eades, A Grammar of Gayo: A Language of Aceh, Sumatra, Gayo belongs to the Malayo-Polynesian branch of the Austronesian family of languages. Malayo-Polynesian languages are spoken in Taiwan, the Philippines, mainland South-East Asia, western Indonesia…” (Eades 2005:4)

[16] Yaitu suatu bidang ilmu linguistik yang mempelajari tentang pembentukan kata, perubahan sebutan dalam bahasa pertuturkan sehari-hari (linguapranca) dalam suatu masyarakat di tempat tertentu.

[17] Merah Mege adalah anak lelaki bungsu dari tujuh bersaudara, keturunan langsung dari Muyang Mersa, yang merupakan keturun langsung dari Malik Malik Ishaq –pendiri Kerajaan Malik Ishaq– pada 337 Hijriyah/988 Masehi.

[18] Muyang Mersa adalah keturunan langsung dari Maulana Malik Ishaq –pendiri kerajaan Malik Ishaq pada tahun 988 Masehi– di Isaq. Respons Win Wan Nur (seorang warga berasal dari Kute Rayang, Isaq) yang dikirim ke Lintas Gayo, 31 Juni 2017.

[19] Testimoni Tengku Ilyas Lebé, 1976, Transliterasi Orasi Tgk H Ilyas Leube – Bag 1] Hikayat/Sejarah Gayo, Bag. 1, dokumen milik Prof. Dr. H. Tgk. Baihaqi AK, 26 April 1976. Disalin oleh Tauhid Mawardi, mahasiswa Jurusan Teknik Informatika di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh Utara.

[20] Q: surat Yusuf, ayat 08-10, 2009 (1430 H), Departemen Agam RI, Sygma Creative Media Corp.

[21] Kuburannya Merah Jernang tertelak di Kampung Seunagan, dirawat dengan baik oleh masyarakat setempat, terletak di daerah Aceh Barat.

[22] Perkataan Meureudu dipastikan ada hubungan dengan perkataan ’Meurah Dua’ ( Merah Putih dan Merah Item).

[23] Merah Silu ini mempunyai seorang putera bernama Merah Sinabung (Merah Sinôbông), yang memiliki perwatakan keras. Beliau merantau ke  daerah Jeumpa dan Samalanga. Dimaklumkan, Raja Jeumpa akhirnya menikahkan puterinya dengan Merah Sinôbông. Dari pasangan inilah menurunkan dua orang anak lelaki bernama Malik Ahmad dan Merah Silu. Setelah Merah Sinôbông wafat, maka Malik Ahmad dinobatkan menjadi Raja Jempa; sementara Merah Silu yang dikenali sebagai seorang ’alim, dinobatkan menjadi Raja Pasé pertama, yang kemudian lebih dikenali Sultan Malikus Saleh yang memerintah selama lebih kurang 29 tahun (1297-1326 M).

[24] Testimoni Win Wan Nur, 31 Juni 2017, seorang warga Isaq yang sekarang berdomisili di Bali.

[25] Tarikh tersebut telah disepakati dalam Seminar Tentang Masuk dan Berkembangnya Islam Di Nusantara, 25-30 September 1980, Rantau Panjang Peureulak, Aceh Timur.

 

[26] Ibid., Win Wan Nur, 31 Juni 2017.

[27] Kerajaan Linge adalah sebuah Kerjaaan kuno di Aceh. Kerajaan ini terbentuk pada tahun 416 H/1025 Masehi) dengan raja pertamanya adalah Adi Genali, bertepatan dengan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan (Sultan Peureulak) yang memerintah (1023-1059). Korelasi tahun antara masa pemerintahan raja Linge dengan kesultanan Peureulak adalah penting, karena anak sulung raja Linge –Merah Johansyah– dididik di Dayah di daerah Bayen, Peureulak di bawah bimbingan Sjèh Abdullah Kan’an, yang seterusnya membebaskan beberapa kerajaan kecil di Aceh Besar dari penguasaan rezim Putroe Neo Niang (1205). Penyelenggaraan roda pemerintahan Kerajaan Linge didasarkan pada Konstitusi yang terdiri dari 45 pasal menggunakan bahasa Gayo yang ditulis dalam huruf jawi (arab) dirumuskan pada tahun 1115 M oleh para ulama dan pemimpin masyarakat di lingkungan Istana Reje Linge Umah Pitu Ruang. Naskah 45 pasal adat Nenggeri Linge tersebut disimpan oleh Reje Asa yang bergelar Reje Kul (saudara sebapak dengan Raja Lingga XVIII). Naskah tersebut telah disahkan sebagai aturan adat oleh Residen Aceh dan Asisten Residen Aceh Utara tanggal 19 Agustus 1940 –waktu itu, sesuai Keputusan Pemerintah Aceh (pendudukan Belanda) Nomor 47 Tahun 1916, tanggal 8 Januari 1916 bahwa Tanoh Gayo termasuk dalam Afdeling Aceh Utara.

[28] Periode (1000-1250 M) dalam Dynasti Bani Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah periode ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), pada masa itu mengalami disintegrasi, disebabkan oleh kebijakan yang lebih berorientasi kepada pembangunan peradaban dan kebudayaan Islam daripada mengedepankan isu pengukuhan kekuasaan politik dan penaklukan wilayah. Hal ini ditandai dengan lepasanya beberapa Provinsi dari kedaulatan Bani Abbasiyah yang melancarkan perlawanan dan berhasil membebaskan diri. Disintegrasi tersebut sudah pun berlaku di penghujung zaman Bani Ummayyah, yang dilancarkan oleh aktivis Bani Abbasyiah. Sementara itu, umat Islam berada di bawah penguasa Rum beragama Nasrani, yang wilayah kedaulatannya terbentang dari Turki hingga ke wilayah Jordan, Siyra dan Suriah sekarang ini. Pada periode (1000-1250 M) ini memang kekhalifahan Islam dalam keadaan krisis, ditambah lagi dengan tekanan-tekanan dari penguasa Rum. Ady Genali yang berada di wilayah Turki di bawah kuasa kerajaan Rum, tidak melakukan perlawanan di negerinya, akan tetapi hijrah ke Pulau Ruja, tepatnya ke Buntul Linge dan bersamaan dengannya mendirikan kerajaan Linge pada 1025 Masehi. Sementara itu, bumi Konstantinople-Byzantine baru ditakkukan oleh pasukan Muahammad Al-Fateh pada 19 April 1453, sekaligus menukar nama pusat Konstantinople kepada Islambol (Bandar Islam). Kemudiannya, dirubah oleh Kemal Fasha Attathur kepada Intanbul pada tahun 1924.

[29] Nama Adi Genali ini mula diketahui dan tersebar-luas pada tahun akhir tahun 1940-an, ketika Tengku Ilyas Leubé berhasil membujuk seorang perempuan (anggota kerabat kerajaan Linge) di Kampung Linge, supaya bersedia memberitahu, siapa sesungguhnya nama asli Reje Linge pertama. Setlah bersedia akan memberitahu, diadakan upacara adat dengan menyembelih seekor Kerbau dan mengadaan kenduri, barulah perempuan itu (nama ?) memberitahu bahwa nama reja Linge pertama bernama GENALI.

[30] Testimoni Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta –Raja Cik Bebesan– dan Zainuddin keturunan dari Raja Kejurun Bukit.  Kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di wilayah berdaulat masing-masing di era kolonial Belanda.

[31] Luqman Hakim Gayo, 2012, Dua Kerajaan Besar di Tanah Gayo, Lintas Gayo, 21 February 2012.

[32] Asyariadi, SE, MBA, 2008, Linge Ku Sayang Linge Ku Malang, Sebuah Kisah Sejarah Kerajaan Ling, penerbit Qinara, hlm. 31-43.

[33] Testimoni Tengku Ilyas Lebé, 1976, Transliterasi Orasi Tgk H Ilyas Leube – Bag 1] Hikayat/Sejarah Gayo, Bag. 1, dokumen milik Prof. Dr. H. Tgk. Baihaqi AK, 26 April 1976. Disalin oleh Tauhid Mawardi, mahasiswa Jurusan Teknik Informatika di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh Utara. Lihat: catatan kaki nomor 23 dalam Kertas Kerja ini.

[34] Dr. Zulyani Hidayah, 2011, Ensiklopedi Suku Banga di Indonesia, hlm. 123.

[35] Ibid, hlm. 123.

[36] Testimoni Tengku Ilyas Leubé di depan majlis pertemuan orang Kenawat di Jakarta di Jakarta.

[37] Tengku Ilyas Leubé adalah seorang Ulama dan pakar sejarah Gayo berasal dari Kampung Kenawat, Aceh Tengah.

[38] Testimoni Tengku Ilyas Lebé, 1976, Transliterasi Orasi Tgk H Ilyas Leube – Bag 1] Hikayat/Sejarah Gayo, Bag. 1, dokumen milik Prof. Dr. H. Tgk. Baihaqi AK, 26 April 1976. Disalin oleh Tauhid Mawardi, mahasiswa Jurusan Teknik Informatika di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh Utara.

[39] Yusra Habib Abdul Ghani, 2016, Sejarah Perjuangan Mendaulatkan Negara Islam Aceh 1873-2005, Tesis yang berhasil dipertahankan pada Sidang tertutup untuk memperolah gelar Doktor Falsafah pada Fakultas Sains Sosial & Kemasyarakatan, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), hlm. 442.

[40] Ibid, hlm. 44.

[41] Christian Snouck Hurgronje, 1903,  Het Gajoland en Zijne Bewoners (Tanah Gayo dan Penduduknya), terjemahan Budiman.S,  hlm. xviii.

 

[42] Ibid, Christian Snouck Hurgronje, 1903.

 

[43] Lintas Gayo, 29 Juni 2017.

[44] Muhammad Taufik Abda, 29 Juni 2017, Ini Tanggapan Atas Tulisan Asal-Usul Kata ‘GAYO’ Yusra Habib Abdul Gani, Lintas Gayo.

[45] HBurhanuddin Jalil, Ibid, 29 Juni 2017, Lintas Gayo.

[46] Dr. Teuku Muttaqien, Ibid, 29 Juni 2017, Lintas Gayo.

[47] Takwaddin Husin, Ibid, 29 Juni 2017, Lintas Gayo.

[48] Ibnu Sakdan Abubakar, Ibid, 29 Juni 2017, Lintas Gayo.

[49] Dharma Wangsa, Ibid, 29 Juni 2017, Lintas Gayo.

[50] Win Wan Nur, Ibid, 29 Juni 2017, Lintas Gayo.

[51] Ramadhian Fahri, Ibid, 29 Juni 2017, Lintas Gayo.

[52] Edy Putra Kelana, Ibid, 29 Juni 2017, Lintas Gayo.

[53] Bengsu Jantung Limpe, Ibid, 29 Juni 2017, Lintas Gayo.

[54] Ayuseara Putri Gayosia, Ibid, 29 Juni 2017, Lintas Gayo.

[55] Ibnu Hajar, respons melalui media facebook.

[56] M. Ridwan Arahman, respons melalui media facebook.

[57] Mukhlis Hasan, Ibid.

[58] Syarifuddin Usman, Ibid.

[59] HBurhanuddin Jalil, Ibid.

[60] Mahmuda Saputra, Ibid.

[61] Kausara Aman Karimah, Ibid.

[62] Reje Bintang, Ibid.

[63] Adi Fa, Ibid.

[64] DR. Teuku Muttaqin Mansur, Ibid.

[65] Edy Saputra, Ibid.

[66] Tasnim Bachtiar, Ibid.

[67] DR. Takwaddin Husin, Ibid.

[68] Mulyadi Aduen, Ibid.

[69] Hafizan Djui, Ibid.

[70] Muhammad Surur, Ibid.

[71] Herman RN, Ibid.

[72] Hafizah Djuli, Ibid.

[73] Teuku Harist Muzani, Ibid.

[74] Rahmadi Ranggayo, Ibid.

[75] Ali Akbar, Ibid.

[76] Azzohir Mogen, Ibid.

[77] Asyik Kunna, Ibid.

[78] Rusima Mnur, Ibid.

[79] Bustami Gayo, Ibid.

[80] Ama Gayos, Ibid.

[81] Sirwandi Laut Tawar, Ibid.

[82] Wahyudi Kobat, Ibid.

[83] Rokhim, Ibid.

[84] Faisal Zainal, Ibid.

[85] Syafruddin Ariem, Ibid.

[86] Fauzi Riansyah, Ibid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here