Kutacane, Napak Tilas Perjalanan 31 Tahun Lalu

0
194
Masjid Agung At-Taqwa Kutacane, Dulu dan Kini (sumber gambar masjid lama : dodileuser)

Gayonese Documentary – Alhamdulillah, awal Maret 2021 ini saya diberi kesempatan jalan-jalan ke Kutacane, ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara. Secara pribadi, saya punya kenangan yang cukup mendalam dengan kota ini.

Nun jauh di masa lalu, pada tahun 1990 atau sekitar 31 tahun lalu, saya pernah menjelajahi wilayah ini selama kurang lebih 4 bulan.

Saat itu usia saya masih imut-imut, 22 tahun, status mahasiswa tingkat akhir di Fisipol UGM Yogyakarta. Kuliah sudah tuntas. Mata kuliah sebanyak 144 SKS sudah saya rampungkan, termasuk KKN dan skripsi. Saya tinggal menunggu wisuda.

Saya mengambil sebuah keputusan untuk menunda wisuda selama satu semester. Ada pertimbangan di balik keputusan itu. Saya ingin melakukan sesuatu sebelum lulus kuliah. Sesuatu itu tentu harus yang bermanfaat untuk perjalanan hidup saya selanjutnya.

Karena alasan ini saya memutuskan untuk bergabung melakukan sebuah perjalanan yang biasa disebut khuruj selama 4 bulan dengan Jamaah Tabligh.

Khuruj fi Sabilillah

Khuruj atau lengkapnya khuruj fi sabilillah secara harfiyah artinya keluar di jalan Allah. Satu program khusus dalam Jamaah Tabligh dengan cara meluangkan waktu, diri dan harta selama masa tertentu untuk belajar mendisiplinkan diri dalam mengamalkan agama serta mengajak orang lain untuk bersama-sama mengamalkan agama.

Kegiatan seperti ini ada di seluruh dunia, sehingga jamaah Indonesia bisa melakukan perjalanan serupa ke luar negeri. Dimulai dari perjalanan ke India, Pakistan dan Banglades, kemudian bisa melanjutkan ke berbagai belahan dunia lainnya.

Di Indonesia, kegiatan ini juga sudah tersebar ke seluruh wilayah nusantara. Sampai di pelosok desa kita bisa menjumpai kegiatan mereka.

Program khuruj dilakukan secara berjenjang. Mulai dari durasi pendek 3 hari, 40 hari hingga 4 bulan.

Masjid Pertama

Perjalanan khuruj saya selama 4 bulan dimulai dari pertemuan besar di Masjid Al-Muttaqin Ancol, Jakarta Utara pada pertengahan tahun 1990. Saya mendaftarkan diri dan kemudian diputus bergabung dengan satu jamaah yang akan dikirim ke Kutacane.

Masjid Al Jihad Lawe Sigalagala, tempat rombongan menginap pertama di Kutacane (foto pribadi)
Masjid Al Jihad Lawe Sigalagala, tempat rombongan menginap pertama di Kutacane (foto pribadi)

Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 4 hari 4 malam dengan bus dari Jakarta ke Medan, terus disambung dengan kendaraan kecil dari Medan ke Kutacane, kami akhirnya sampai di sebuah masjid kecil, Masjid Aljihad, yang berada di pinggir jalan di Lawe Sigalagala, masuk wilayah Aceh Tenggara.

Dalam perjalanan ke Kutacane kali ini, saya bisa menemukan masjid tersebut. Bangunannya kini sudah direnovasi, tetapi saya masih ingat letaknya, di sebelah bangunan milik kesatuan angkatan darat yang sampai sekarang masih dipakai. Bangunan tersebut meskipun kelihatan tua, masih kelihatan kokoh dan terawat.

Markas Kutacane 

Setelah semalam menginap di masjid tersebut, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Kutacane. Kami dibawa ke sebuah meunasah tua di salah satu sudut kota tersebut.

Meunasah tersebut biasa disebut sebagai markas Kutacane atau markas Aceh Tenggara. Seluruh kegiatan Jamaah Tabligh di Aceh Tenggara digerakkan dari meunasah ini.

Alhamdulillah, kemarin saya juga sempat menengok meunasah ini. Bentuknya masih seperti dulu, 31 tahun lalu ketika saya datang. Waktu itu, meunasah ini juga sudah kelihatan tua.

Saat ini meunasah tersebut sudah tidak dipakai lagi. Di sampingnya sudah berdiri sebuah masjid yang cukup besar. Dulu, masjid tersebut masih dalam proses pembangunan, masih berupa pondasi batu.

Sekadar pengetahuan, meunasah ini kalau di Jawa mirip dengan langgar atau mushala. Sebuah tempat yang biasa digunakan ibadah, pengajian dan musyawarah. Bangunannya lebih kecil dari masjid.

Biasanya letaknya di depan masjid besar, terkadang juga terpisah berdiri sendiri. Meunasah biasanya tidak digunakan untuk shalat Jumat. Shalat Jumat dilaksanakan di masjid.

Dari markas ini kami dikirim ke berbagai sudut wilayah Aceh Tenggara. Beberapa kecamatan yang dituju antara lain kecamatan Babussalam, Badar, Ketambe, Bambel, Lawe Alas dan Lawe Sigalagala.

Selain itu kami juga dikirim ke wilayah Blangkejeren, yang saat ini sudah berpisah menjadi kabupaten sendiri, yaitu kabupaten Gayo Lues.

Napak Tilas

Ada beberapa tempat yang masih saya ingat dengan jelas maupun secara samar. Selain masjid Aljihad di Lawe Sigalagala dan markas Kutacane, saya juga masih ingat dengan beberapa masjid di Badar, Ketambe dan Blangkejeren.

Masjid Taqwa Blangkejeren, tempat pertama yang dituju di Blangkejeren (foto pribadi)
Masjid Taqwa Blangkejeren, tempat pertama yang dituju di Blangkejeren (foto pribadi)

Masjid Agung At-Taqwa Kutacane yang saat ini berdiri dengan megah, saat itu masih dalam bentuknya yang lama. Saat itupun sudah nampak gagah dan berdiri di atas tanah yang cukup luas. Di depannya terdapat alun-alun yang biasa digunakan sebagai tempat berkumpul warga.

Salah satu masjid di Rikit Gaib, gayo Lues (foto pribadi)
Salah satu masjid di Rikit Gaib, gayo Lues (foto pribadi)

Di Blangkejeren saya bisa menemukan masjid yang pertama tempat menginap kami saat datang ke wilayah tersebut, yaitu masjid Muhammadiyyah. Saya juga sempat menengok sebuah masjid di wilayah Rikit Gaib, Gayo Lues.

Tempat lain yang menjadi kenangan adalah Sungai Alas, sungai terpanjang di Aceh. Arus sungai ini cukup deras dan sekarang menjadi salah satu tempat terbaik untuk kegiatan arung jeram.

Sungai Alas, Sungai terpanjang di Aceh (foto pribadi)
Sungai Alas, Sungai terpanjang di Aceh (foto pribadi)

Sungai ini melewati kawasan taman nasional Gunung Leuser, terus mengalir sampai Samudra Hindia, sungai ini berada di sepanjang Kabupaten Aceh Tenggara,Gauo Lues dan Aceh Selatan.

Terlalu banyak kenangan saya tentang Kutacane dan sekitarnya. Kalau saya tulis semua dalam satu tulisan, rasanya akan menjadi sangat panjang.

Mudah-mudahan saya bisa menuliskannya dalam beberapa tulisan.[]

Baca juga: Sejuta Kenang di Lawe Alas

Ditulis oleh Al Johan, terus belajar mencatat apa yang bisa dilihat, didengar, dipikirkan dan dirasakan. Phone/WA/Telegram : 081281830467 Email : aljohan@mail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here